Make your own free website on Tripod.com


 

Anggapanmu

Sekebun cinta nan berbunga
Megah berdiri nan berduri
Aku yang asli , Di dalam mekar
Bila terbit mentari
Menguntumlah . . . . .

Sejambak cinta nan berbunga
Megah berdiri nan tiada
Mekar dan kukuh , Bau dan kaku
Itulah pilihan ku
Aku di taman hanya perhiasan . . . Mata untuk . . . . .

Hanya mampu ku melihat
Kecurangan warna bunga , Idamanmu . . .
Berbaja tiada

Sedang aku anggapanmu
Menyusahkan untuk , Meraih impian . . .
Terlontar ku di halaman

Pemusnah ku adalah kumbang
Runtuh bila ku kelayuan
Impian mu hanyalah masa
Untuk menikmati segala
Belum pasti , Dirimu bahgia . . .                                                                                 Gerhana
 

Benar . . . Aku yang berasalah
Mungkin . . . Tiada kemesraan di hati
Harus . . . Kau fikirkan jua
Segala . . . Perubahan sikap ku itu
Bukan niatku . . . Melukakan hatimu

*   Tika ia bermula
Cinta itu bersinar
Masih dalam ingatan paduan janji
Jangan kau persoalkan
Di mana kejujuran
Masih engkau sangsikan keikhlasanku

Berapa lama mungkin
Kesabaran ku ini
Terang yang tiba
Jadi gerhana
Ada cahaya . . . Redup seketika

Benar . . . Aku yang bersalah
Mungkin . . . Tiada kemesraan di hati
Terang yang tiba . . . Jadi gerhana

Kemelut Di Muara Kasih
 

Seandainya dapat kau selam
Sambil mentafsir tasik hatiku
Cuma tenang di permukaan
Dan di dasarnya bergelora

Persoalan demi persoalan
Membelenggu akal dan fikiran
Tidak ku temu jawapan

Seandainya dapat ku lari
Jauh ku pergi membawa diri
Sebenarnya langkah terkunci
Antara kasih dan juga budi

Mengapa kau jua yang kurindu
Walau sudah ku tahu
Payah bersatu
Hidup denganmu

Engkau sungguh jujur dan ikhlas terhadapku
Tak pernah walau dalam sekali pun
Kau pinta ku membalas
Semuanya itu lambang kesetiaan mu
Bukannya mengaburi mata ini
Atau sebaliknya

Kita bagaikan pertaruhan
Pada yang menyaksikan
Jauh manakah kita bertahan

Jika ku tersilap
Pastinya di pandang hina
Terlalu banyak sungguh halangan
Terpaksa ku terjah

Aku pun tidak tahu
Apa yang ingin Tuhan tunjukkan
Adakah ini dugaannya
Hanyalah sekadar untuk menguji setiamu

Seandainya hajat tak sampai
Tanah dan badan pasti berkecai
Terkubur harapan di liang cinta
Kasih ini kita semadikan

Korban Cinta
 

Dugaan . . . Meresahi diriku kini
Gelora . . . Fikiran meronta cari yang pasti

Antara kita . . . Ada sinar cinta yang resah
Kurasai . . . Demi kerana ku kasih
Kasih padamu

*   Mengalir dalam diriku
Serupa dengan dirimu
Ia membara
Membakar jiwa

Relaku korbankan cinta
Agar dikau capai bahagia
Pada dirimu . . . Ada diriku

Walaupun cinta terluka
Kupendam segalanya
Demi untuk dirimu
Ku berserah

Antara kita . . . Tersimpan naluri berbeza
Telah mekar . . . Dibelai dibawah rumpun serupa

Untukmu . . . Ku korbankan segalanya
Agar kau . . . Tiada curiga merintang kasih
Padamu jua kukorbankan cinta

Madah Berhelah
 

Di dalam sendu yang teramat
Ku lihat senja yang berlabuh
Dan malam yang melepas layar
Kaku aku di sini
Bersama harapan terbakar

Siapa di antara kita
Yang dulu memula sengketa
Pastinya diriku bagimu
Yang engkau anggap punca
Biarpun ketara engkau Yang mula...

Bukan sekali kau suarakan
Kebimbangan pada cintaku
Kau tak mampu
Bersendirian tanpaku
Itu semua lembut lidah
Manis madah penuh helah
Yang pastinya . . .
Aku adalah sandaran . . .
Bagai hilang semangat diri
Keyakinanku . . . Terlebur kini

Sesungguhnya kau ku sanjung tinggi
Bererti hanya kau di hati
Sayangnya kejernihan cinta
Yang mencermin setia
Kau keruhkan warnanya . . .
Kau keruhkan warnanya . . .

Puncak Kasih

Dalam air tenang
Arus menyusur damai
Sesekali embun yang menitis memecah
Di mana percikkannya di mata
Lalu kusentuh
Basahnya kejernihan

Dalam hati sunyi
Bagai hening pagi
Tiada beza lagi kedukaan ini

Andai nilai setia tiada
Bagaimana pula nantinya
Di dalam istana

*   Retak kasih ini
Berlimpahan rona luka
Telah pun kita simpan
Tak sedikit sejarah percintaan

Puncak kasih kita
Rendangnya oh . . . Seketika
Bagai cerita . . .
Satu mimpi episod cinta

Terpaksa aku redha
Walaupun dalam nyata
Kau merisik tanpa
Tidak ku percaya

Dalam air tenang
Hati melawan sunyi
Tiada beza lagi kedukaan ini

Andai nilai setia tiada
Bagaimana pula nantinya
Di dalam istana serikan warnanya
Hebatkah cinta

Putus Terpaksa

Seringkali kau menepis tiap persoalan
Ada sesuatu kau sembunyikan
Dari pengetahuanku

Dapat aku merasakan
Ketara perubahan
Setelah jelas terbukti
Sesuatu yang terlarang
Menjadi teman hidupmu
Selain aku . . .

Demi masa hadapan kita
Aku merayu
Kuncikan keinginanmu
Bernafaslah dalam sejahtera
Ku pasti ruang untuk mu
Masih ada . . .

Sudah puas ku menghimpun doa
Agar kau berubah
Berpaling membentuk impian hidup kita

Namun tiada oh kudratku untuk
Halang keinginan
Suaraku tak berdaya
Menentang kemahuanmu

Sia-sia belaka aku
Berkorban kasih ku padamu
Sekiranya kau
Masih tak ubah pendirian
Yang hanya menjanjikan
Pemergian ngeri
Yang tak memberi erti

Demi masa hadapan kita
Tak sanggup aku
Bertemankan oh kasihmu
Yang penuh dengan fantasi
Terpaksa jua ku undur diri . . .
Terpaksa jua ku undur diri . . .

Senja Nan Merah   :   Ziana Zain & Awie
 

Masihkah kita termangu di bawah pepohon itu
Ketika hujan melunturi danau yang terusang
Tidak pernah dibilang hari
Hanyalah debar yang terasa . . . Terasa

Setiap hari dibuai mimpi yang terindah
Dengan menghitung senja merah dihujung sinar
Mencipta keheningan rahsia
Pada sehimpun kenangan
Menyimpul satu makna diruang yang lurus ini

*   Haruskah kita mencari . . .
Pada gunung dan lurah , Liku-liku curam insani
Haruskah kita mencari . . .
Puncak mengilau cahaya , Dalam hidup seribu warna
Dibawah teriring ungkapan pada sebuah wajah
Yang lara kesepian

Haruskah kita mencari . . .
Dalam senja begini , Kembali kita bertemu
Haruskah kita mencari . . .
Dalam simpati wangi , Membilang kenangan yang abadi
Seperti menuggu mentari senja
Menghilang perlahan-lahan disebalik
Awan yang merah

Dibalik awan yang merah . . . Dibalik awan yang merah . . .

Setia Ku Di Sini

Ku terasa kesyahduan
Menyelimut malam ku sepi
Ku menanti kepulangan mu
Kau janji-janjikan suatu masa dulu

Hanya kau kasih kau ku kasihi
Kata-kata yang dilafazkan
Mengikat jiwa dan cinta
Hingga tak termimpi pengganti yang lain

Biar ku dicengkam gelisah
Dibuai rindu yang mendalam
Resah mendamba belaian mu
Yang teramat ku dahaga

Ku masih lagi setia
Biar pun takdir mencabar kita terpisah
Ku masih lagi di sini
Berpegang teguh kalimah cinta

Ku bisikkan dalam tangisan
Yang gugur berderai ke bumi
Menjadi bingkisan ku yang akhir
Untuk bekalan jalanmu
Mencari mahkota menghiasi pelamin kita
                                                       SYURGA DI HATI KITA
 

Ku cari di mana
Kau letak hati ku
Kerna bersama ku
Ada penawar nya
Hanya kepada mu
Tempat ku mengadu
Usah kau berpaling
Dan terus membisu

Sememangnya lidah
Tiada bertulang
Namun itu bukan
Alasan berdiam
Percintaan ini
Kita memilih nya
Kesilapan hanya
Suatu perbandingan

* :
Kekasih.....
Cinta ku ibarat rimba
Andainya dibakar
Tinggallah debuan arang
Siramlah dengan kata-kata sakti mu
Semoga asmara berbunga ke akhir nanti
Bagi ku engkau....
Permata hidup ku
Inilah ujian buat kita

** :
Berjanjilah kau setia kekasih pada ku
Kita bercinta hingga ke pintu syurga
Sinarilah asmara di mata dan di jiwa
Hidupkan cahaya cinta selamanya

( Ulang Rangkap *, ** )

Terlerai Kasih

Di sini kita berdiri
Di bibir ombak mengucap rinduan
Hanyalah tinggal kenangan
Cinta yang pasrah tiada kesampaian
Dibawa arus
Perbezaan mu
Tinggal tanpa bermaya

Ada kalanya kau datang
Walaupun tidak aku relai
Menyusur jalan mimpi ku
Memberi janji seribunya rindu pada ku
Di dalam lena
Tiada gunanya

(c/o)
Biarlah aku
Sendiri dengan rindu
Masa yang menawarkan
Segala kepedihannya

Ku yang terseksa
Ku hadapi dengan rela
Ku jadikan segalanya
Teladan titi usia

Disuatu masa
Mungkinkan tiba
Apa sebenarnya
Di dalam cinta

Di sini kita berdiri
Di bibir ombak mengucap rinduan
Hanyalah tinggal kenangan
Cinta yang pasrh tiada kesampaian
Ini kenyataan
Yang harus ku terima

(Ulangi c/o)

Tiada Jodoh Antara Kita
 

Mungkin ada rahmatnya
Kita tidak bersama
Andainya diteruskan
Apakah ucapanmu
Di hujung pertemuan

Kuat mana diikat
Pasti akan terlucut
Andai disambung lagi
Tidak sekuat dulu
Kerana cuma aku
Yang menarik . . . Bukan lagi tanganmu

Tak guna mendustai
Pada diri sendiri
Sedangkan rindu itu sering mengganggu
Salah usah dicari
Seharusnya berdua kita menghadapi

*   Pada zahir tidak terlihat
Ada garis yang terbentang
Tapi batinku sering berkata
Biar ada batasannya

Walau tidak di sisni
Cinta kita brsemi
Berkat keyakinanku
Dan doa ku pohonkan
Moga diperkenankan
Dipertemukan suatu masa nanti

KESUMA HATI

Sejenak terlintas seakan jelas
Kerana masih ku terasa kehadiran
Demo benci kawan pung tak apa
Biar terkadang kenyataan
Adalah satu kemestian perjalanan

Tak manis berdendam
Memusnah rasa kelukaan
Kelak kan berkecai juga
Segala rasa cinta
Takkan kering madu
Yang disimbah hujan
Yang dibakar suria
Menyentuh di jiwa

Terangilah kesuma hati
Di dalam gelap tidak tercari
Memberi hadiah seberkas cinta yang tulus suci

Sinarilah pujaan hati
Ke dalam tasik indah berseri
Sehingga kabus pergi berarak dengan terang
Taman Firdausi

Warna-warna kembalikan seri kamanisan
Hilang harapan seandai sinarnya menghilang

Oh datanglah cinta ini
Dalam seru dalam hati
Penyeri ku hanya rindu
Hadir di sepanjang waktu

Sejenak terbayang
Kesuma hati kesucian hadir kembali
Sekali lagi
Tidakkan berhenti penantian
Selama ini kerana masih terasa
Hadir di sepanjang waktu

PENAWAR SEMALU

Terbuka kelopak walau tiada harum
Namun tetap berseri
Dalam taman larangan tersendiri
Tersentuh jejari dalam asyik berjaga
Tidak disangka berduri
Bisa telus menyentuh ke hati
Luka ku berdarah sebelum sampai waktunya

* :
Mengalir ke lurah asing nan berliku
Dan merempuh tebing kasih
Selama ini gagah bertahan
Menghakis segunung rindu yang teguh
Dihanyut arus rapuh untuk ku berpaut
Di mana ku temui penawar ini
Mengharap lagi
Terbukalah kembali... mekar semula

( Ulang Rangkap * )

Setangkai semalu malu bila ku sentuh
Namun kan berseri
Dalam taman larangan tersendiri
Usah disentuh lagi...